Kurikulum

Posted on Updated on

Metode Pembelajaran di pondok pesantren Annur Al Huda memakai Sistem klasik Sorogan dan Moderen Seperti Madrasah Diniyah.

Sorogan

Meskipun di Pondok Pesantren Annur Al Huda terdapat pendidikan Formal mulai TK sampai MA akan tetapi  metode klasik kitab kuning tidak bisa di tinggalkan karena itu adalah ciri khas Pondok Pesantren, karena itu sistem sorogan tetap dipakai sampai sekarang.

Setiap pagi santri putra dan putri mengaji kitab kuning langsung pada Kiyai , bertempat di mushola putra para santri mengaji ilmu Akhlaq, Tafsir, Hadis, Ilmu Kemasyarakatan  dll.

Madrasah Diniyah

Madrasah diniyah di Pondok Pesantren Annur Al Huda terdiri dari 9 Kelas , 3 Madin Ula, 3 Madin Wustho dan 3 Madin Ulya,

Madrasah diniyah Ula di khususkan bagi siswa siswi jenjang Tsanawiyah, dan Jam KBM sore hari ba’da sholat Ashar karena ketika malam diisi dengan setoran Alquran, Sedangkan Madrasah Diniyah Wustho dan Ulya khusus untuk santri jenjang Madrasah Aliyah dan Jam KBM dilaksanakan Ba’da Sholat Isya’ karena pada jenjang Aliyah para santri sudah mulai mendalami Ilmu Kemasyarakaan dan tidak ada setoran Alqur’an waktu malam.

Untuk pengajian pagi ke pengasuh di khususkan pelajaran akhlak dan ilmu kemasyarakatan sedangkan madrasah diniyah wustho dan ulya mengutamakan ilmu alat yaitu nahwu shorof.

untuk madrasah diniyah ula mengutamakan hafalan qur’an karena disesuaikan dg kurikulum sekolah formal MTs yaitu tahfidzul quran.

harapan nya santri lulusan pondok pesantren annur al huda bisa hafal beberapa jus alqur’an, bisa membaca kitab kuning, mempunyai akhlak yg baik dan bisa menguasai ilmu kemasyarakatan untuk bekal mereka dimasa mendatang.

Sejarah Berdiri PP Annur Al Huda

Posted on Updated on

Didirikan oleh KH.M.Ridlwan Alkanma di desa Ngawonggo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang pada tahun 1990 yang mana waktu itu beliau diamanati oleh KH Burhanuddin Hamid sebagai Pengurus Pondok dan Kepala Madrasah Aliyah Annur Bululawang, Setelah beberapa tahun mendalami ilmu agama di pondok akhirnya beliau berpamitan kepada sang kiyai untuk pindah kamar “Boyong”. Setelah mendapat restu dan doa dari kiyai pada tahun 1990 awalmulanya beliau mendirikan Mushola di sebelah barat rumahnya, Peletakan batu pertama mushola tersebut di hadiri oleh KH Anwar Nur, Kyai Burhanudiin Hamid, KH Badruddin Anwar dan Para sesepuh agama di desa Ngawonggo,  dan sama KH Anwar Nur mushola tersebut diberi Nama Mushola Annur Al Huda. setelah bertahun-tahun beliau mengajarkan ilmunya ternyata antusias masyarakat semakin banyak, dan melihat dari banyaknya minat Masyarakat dalam belajar ilmu Agama akhirnya beliau mendirikan Pondok Pesantren yang di beri nama Pondok Pesantren Annur Al Huda.

  • untuk lebih detailnya lihat di wikipedia dg kata kunci ”Pondok Pesantren Annur Al Huda”

Undangan Haul Para Auliya’ilah dan Harlah PP “Annur Al Huda” Ngawonggo Th 2016

Posted on Updated on

PANITIA PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

HAUL PARA AULIYA’ILLAH DAN HARLAH KE 27

PONDOK PESANTREN “ANNUR AL HUDA”

Jl. Suroyudo – Ngawonggo – Tajinan – Malang Telp : 082131838734


 

No         : 06 / PH-H 27 / PONPES / YPAA / I / 2016

Perihal : UNDANGAN

Kepada

Yth       : Bapak / Ibu / Saudara/I  Muslimin / Muslimat

Di        : Tempat

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Dalam Rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W, Haul Para Auliya’illah dan Harlah Ke-27 P.P. “Annur Al Huda” Serta Wisuda Hafidzul Qur’an P.P. Tahfidzul Qur’an “Nurur Ridlwan” Ngawonggo Kami mohon kehadiran Bapak / Ibu Besuk Pada :

Hari / Tgl                      : Senin / 8 Robi’us Tsani 1437 H ( 18 Januari 2016 M )

Waktu                            : 19.00 Wib ( Ba’da Isya’ )

Acara                             : Pengajian Umum

Dengan Pembicara  : Habib Ahmad Fikri Dari Pasuruan

Tempat                         : Pondok Pesantren “Annur Al Huda” Ngawonggo Tajinan Malang

 

Demikian atas kehadiran Bapak / Ibu Kami sampaikan terima kasih Jazakumulloh Khoiron Katsiron.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 Ngawonggo, 13 Januari 2016

Panitia Penyelenggara

Bendahara

Kholidul As’ad

Ketua

 

Fatkhur Rozaq

Sekretaris

iswanto

 

 

Mengetahui

Pengasuh P.P. “Annur Al Huda”

 

 KH.M.Ridlwan Alkanma , S .Ag

Annuralhuda Official Website

Posted on Updated on

Mohon maaf karena Website http://www.annuralhuda.heck.in mulai tanggal 25 November 2016 sudah tidak bisa di akses dikarenakan penyedia situs mywapblog sudah tidak bekerja jadi untuk Official Website Annur alhuda dipindah ke situs ini. terimakasih atas perhatiannya.

Mondok? Siapa Takuuut!!!

Posted on Updated on

“Bu, pokoknya besok aku harus didaftarkan mondok” kata seorang anak kepada ibunya. Sang ibu terkejut seraya berkata, “Lho??? Nak, mondok itu harus dipersiapkan segala kelengkapan dan kebutuhannya”. Dengan nada sedikit ngototsang anak berkata, “Pokoknya besok aku harus sudah dimondokkan, aku kemarin sudah mendaftar sekolah formal di sana, beberapa persyaratan pendaftaran pun sudah kulengkapi, tinggal mondoknya belum” jawab sang anak.
Inilah sekelumit perbincangan yang terjadi antara salah seorang keponakan saya dengan ibunya yang tidak lain adalah kakak perempuan saya. Kakak saya begitu terkejut dan heran dengan desakan dari putra keduanya yang tiba-tiba meminta untuk segera dimondokkan di sebuah pesantren di Pasuruan. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa harus pesantren jadi tempat belajar???

Dalam tulisan singkat ini akan dipaparkan sekelumit tentang pesantren dan pilar-pilar yang membangunnya, dan gambaran proses pembelajaran yang terjadi di dalamnya, serta kelebihan-kelebihan yang ada dalam pembelajaran tersebut.

Pilar-pilar Pesantren dan Proses Pembelajaran didalamnya

Secara istilah pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para santri biasa tinggal di pondok (asrama) dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara detail serta mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan pada aspek moral dalam kehidupan bermasyarakat. (Fenomena, 2005:72)

Setidak-tidaknya ada beberapa aspek yang membangun sebuah pesantren sebagaimana dipaparkan oleh Gus Dur dalam bukunya Pesantren Masa Depan, yaitu kyai, santri dan masjid. Dalam pendapat lain disebutkan, ada lima unsur yang membangun pesantren, yaitu kyai, santri, masjid, pondokan dan kitab kuning.

Kyai, sebagai pimpinan pesantren. Kyai tidak hanya menjadi sumber pengetahuan yang ditimba oleh para santri. Akan tetapi, lebih dari itu seorang kyai juga menjadi panutan teladan (uswah hasanah) bagi para santri dan masyarakat. Bahkan, kyai juga menjadi orang tua kedua bagi para santri, yang dalam bahasa pesantrennya lebih umum dikenal sebagai abu ar-ruuh (bapak ruhani) yang selalu menjadi motivasi dan spirit bagi santri untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan dan meningkatkan kemampuan diri, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Di samping itu, satu hal lagi yang tidak kalah penting dari seorang kyai, yaitu kekuatan do’a. Jika kyai dianalogikan sebagai orang tua kedua (abu ar-ruuh), maka sudah pasti do’a seorang kyai untuk santrinya akan dikabulkan oleh Allah swt. Karena do’a orang tua untuk anaknya, bagaikan do’a seorang nabi untuk umatnya. Apalagi seorang kyai – dalam pandangan umum – adalah orang yang dekat dengan Allah swt. tentunya do’anya mudah untuk dikabulkan oleh-Nya.

Santri, sebagai penerima transformasi keilmuan dari kyai. Santri menjadi subyek penggodokan karakter dan life skill kyai dan pesantrennya yang kelak ketika kembali ke masyarakat juga akan menjadi transformer pengetahuan baik praksis maupun teoritis, sekaligus sebagai agent of change.

Secara umum, santri terbagi menjadi dua; santri kalong dan santri biasa. Jika santri biasa adalah santri yang tinggal di bilik-bilik pesantren, maka santri kalong adalah santri yang berangkat dari rumah ke pesantren untuk mengikuti rutinitas pendidikan dan pulang ke rumahnya setelah rutinitas pendidikan tersebut selesai.

Masjid dalam pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah akan tetapi juga sebagai pusat transformasi pengetahuan. Hal ini bisa dilihat pada masa Nabi saw. bagaimana beliau memposisikan masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja.

Berbagai kegiatan kepesantrenan seringkali dipusatkan di masjid. Sebagai contohmuhadhoroh (pidato, ceramah), jam’iyah diba’iyahhalaqoh (kelompok belajar),syawir (musyawarah, diskusi), dan berbagai kegiatan kepesantrenan lainnya.

Pondokan sebagai salah satu unsur pesantren merupakan sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat tinggal para santri yang menetap untuk waktu yang lama. Dalam pondokan interaksi sosial yang begitu akrab terjadi setiap hari secara inten. Rasa kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan begitu kuat, yang sangat terasa mulai dari kegiatan sholat, pengajian, belajar, sekolah, masak, makan. Sehingga untuk membangun sebuah persahabatan yang sangat erat, seakan-akan hanyalah pesantren tempatnya.

Rasa kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan ini yang menjadikan banyak para santri seakan terlupa bahwa mereka jauh dari kampung halaman, orang tua dan keluarga, bahkan karena suasana ini pula yang menjadikan mereka betah berlama-lama belajar di pesantren.

Literatur-literatur klasik di pesantren memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan keilmuan dan pengetahuan para santri. Sebagaimana di dalam pesantren sendiri diajarkan berbagai bidang keilmuan dari karya-karya para pemikir klasik seperti, tauhid dan tasawuf, fiqh (berikut yurisprudensinya), bahasa dan sastra (nahwusharafbalaghah, ilmu ‘arudh dan qowafi), filsafat logika (mantiq), dan lain sebagainya. Para santri juga mendapatkan pendidikan akhlak (etika) tidak hanya dari berbagai literatur klasik tersebut, melainkan juga aktualisasi langsung dari sang kyai.

Secara umum, model pembelajaran di pesantren salaf (klasik) terbagi menjadi dua; model tarbiyah dan non tarbiyah. Model tarbiyah adalah model sekolah (dengan tingkat formalitas yang berbeda karena rasa kebersamaan, kekeluargaan dan persaudaraan masih kental), sedangkan model non tarbiyah adalah model pengajian. Dalam model non tarbiyah atau pengajian terbagi lagi menjadi dua model, yaitu model bandongan dan sorogan.

Dalam model bandongan seorang santri senior membacakan dan menerangkan sebuah kitab utama sementara santri-santri yunior menyimak dan ngesahi (memaknai ala pesantren) kata perkata dari kalimat-kalimat yang ada di dalam kitab tersebut. Sedangkan model sorogan seorang santri senior menyimak bacaan santri yunior satu-persatu yang membacakan sebuah kitab di hadapannya.

Dari kedua model di atas, ada pula model pembelajaran yang merupakan gabungan dari 2 model tersebut. Hal ini tampak dalam bentuk kelompok-kelompok belajar (halaqoh) yang dipimpin oleh beberapa orang santri senior.

Model pembelajaran yang diterapkan di pesantren selalu menitikberatkan pada bagaimana santri selalu berupaya untuk secara pro-aktif dan mandiri dalam mengembangkan bidang keilmuan yang dipelajari, atau bisa dikatakan model cara belajar siswa aktif (CBSA). Hal ini sangat tampak pada model sorogan, yakni santri berupaya untuk sebisa mungkin membaca dengan tepat kata perkata, dan memahami kandungan pengetahuan yang ada dalam sebuah kitab yang sedang dipelajarinya, yang selanjutnya hasil usaha pembelajaran mandirinya tersebut dibacakan di hadapan seorang santri senior untuk dikoreksi.

Kelebihan Pembelajaran di Pesantren

Setelah dipaparkan tentang pilar-pilar pesantren dan proses pembelajaran di dalamnya, berikut ini akan dipaparkan beberapa kelebihan pembelajaran di pesantren:

1. Ilmiah-alamiah atau alamiah-ilmiah

Yang dimaksud proses pembelajaran ilmiah-alamiah atau ilmiah-alamiah di sini adalah pembelajaran yang berlangsung di pesantren selalu didasarkan pada teks-teks kitab klasik (baca: kutub turotsiyah, kitab kuning) yang dilaksanakan dalam suasana yang bernuansa tradisional dan penuh rasa kekeluargaan dan kebersamaan.

Sebagai contoh metode hapalan, dalam metode ini santri sebisa mungkin berupaya untuk menghapalkan kata-kata yang tertera dalam sebuah kitab nadzom (bait-bait sajak) yang didalamnya memuat pokok-pokok pengetahuan yang dapat digunakan sebagai acuan atau rujukan ilmiah. Demikian halnya dengan proses kegiatan belajar mengajar. Pengajian dapat dilaksanakan di kamar-kamar santri, serambi masjid, kadang menggunakan bangku kecil dengan duduk bersila. Bahkan ketika lalaran (membaca bersama secara klasikal sebuah kitab nadzom) tidak jarang dilakukan di depan halaman kelas atau kamar.

Esensi dari proses pembelajaran ini adalah proses pembelajaran dengan suasana penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang bertujuan untuk membentuk karakter-karakter ilmiah yang dibentuk secara alamiah.

2. Simultan dan inten

Jika sekarang banyak ditemui sekolah-sekolah dengan label full day school, maka barangkali pesantren adalah lembaga pertama yang menggunakan model pendidikan ini. Proses pembelajaran dimulai dari bangun tidur menjelang subuh, hingga akan tidur lagi, semua dilaksanakan secara simultan dan inten.

3. Active Self Learning (at-Ta’allum adz-Dzaati al-Fa‘-‘aal)

Sebagaimana dipaparkan di atas, modal inilah yang menjadi unggulan pesantren dalam mendidik kader-kader intelektual yang mandiri, kreatif, inofatif, kompeten dan memiliki derajat intelektual yang mumpuni. Santri selalu dididik untuk secara mandiri membangun karakter pribadi dan keilmuannya, tentunya dalam kontrol sang kyai.

4. Lingkungan yang agamis

Salah satu keunggulan pendidikan pesantren adalah lingkungan yang agamis. Hal ini sudah tidak diragukan lagi, karena bagaimanapun pesantren adalah bengkel pembangunan karakter yang agamis, bukan hegemonis. Pendidikan di pesantren selalu mengedepankan unsur-unsur nilai dan sikap, seperti ikhlas, tawadhu’, ikhtiar, tawakkal, dan nilai-nilai positif lainnya, yang kesemua unsur-unsur ini secara aplikatif diteladankan oleh kyai.

Dari gambaran umum di atas yang tentunya belum mewakili seluruh kelebihan pesantren, kiranya belajar di pesantren bukan hal yang menakutkan lagi. Dan kiranya pertanyaan “Mondok apa nggak ya???” kelak akan dijawab “Why not??? ”. Wallahu a’lam By:HSR.

Original post : http://annur2.wordpress.com/2011/05/02/mondok-siapa-takuuut/#more-380